Jumat, 24 Oktober 2014

Laps-Heuristik

1.    LAPS-Heuristik
Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat tuntunan dalam rangka solusi masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.
2.    Cara menyampaikan opini dalam diskusi
Inti dari kegiatan diskusia dalah terjadinya proses bertukar pikiran
Antar peserta diskusi. Peserta di harapkan menyampaikan pendapatnya
terhadap permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya pendapat tersebut harus ditanggapi oleh peserta yang lain. Bermacam-macam bentuk tanggapan dapat disampaikan, misalnya dengan mempertanyakan maksud dari pendapat tersebut jika dianggap belum jelas. Tanggapan juga dapat disampaikan dengan, menyatakan sikap setuju atau tidak setuju/mendukung atau tidak mendukung terhadap pendapat yang telah dikemukakan. Munculnya berbagai sikap pikiran dan tanggapan yang berbeda-beda itu merupakan hal yang positif dalam kegiatan berdiskusi. Semakin banyak tanggapan yang muncul menjadikan proses berdikusi semakin hidup dan dinamis.
Meskipun demikian, hidupnya proses berdiskusi tidak selalu menjamin hasil yang diperoleh akan baik. Hal itu dapat terjadi jika pendapat dan tanggapan yang muncul hanya kata-kata kosong yang tidak ada isinya. Selain itu pendapat yang dikemukakan lemah, tidak bersandar dan tanpa disertai alasan yang logis. Oleh karena itu dalam berdiskusi ,setiap pendapat dan tanggapan yang dikemukakan harus disertai alasan atau argument yang logis dan berdasar. Pendapat juga harus disampaikan dengan bahasa yang baik dan sopan.
3.    Skenario
·      Guru: (menyapa dan mengabsensi) “selamat pagi anak-anak..”
·      Siswa: “pagi bu..”
·      Guru:” siapa yang tidak hadir hari ini?”
·      Siswa: “hadir semua bu..”
·      Guru: “baiklah anak-anak, kita akan memulai pelajaran kita hari ini. Semua sudah siap   untuk belajar hari ini?”
·      Siswa: “sudah bu...”
·      Guru: “(memberikan arahan) anak-anak, kita akan belajar mengenai cara menyampaikan opini yang benar ketika berdiskusi.. nah, siapakah diantara anak-anak ibu yang tahu cara menyampaikan opini yang benar saat berdiskusi?”
·      Siswa 1: “dengan sopan bu..”
·      Guru: “iya benar nak, ada lagi siswa ibu yang tahu...?”
·      Siswa 2: “tegas bu...”
·      Guru: “iya tepat nak, ada lagi siswa ibu yang tahu...?”
·      Siswa 3: “tidak bertele-tele bu..”
·      Guru: “anak ibu hebat.., ada lagi siswa ibu yang tahu...?”
·      Siswa 4: “tidak dengan emosi bu..”
·      Guru: “iya pintar anak ibu, ada lagi siswa ibu yang tahu...?”
·      Siswa :”sudah bu.. sudah semua”
·      Guru: “iya, anak ibu pintar-pintar semua ya... nah, dari semua pendapat anak-anak ibu tadi, kesimpulannya, sikap apakah yang baik kita lakukan saat menyampaikan opini ketika berdiskusi?
·      Siswa: “menyampaikan dengan sopan, tegas, tidak bertele-tele, tidak emosi, bu.. ”
·      Guru: “iya, jadi hari ini kita sudah pahamkan bagaimana cara menyampaikan opini yang baik saat berdiskusi..? anak-anak ibu, masih ada yang kurang mengerti?”
·      Siswa: “tidak bu... sudah paham”
·      Guru: “baiklah, hari ini pelajaran kita sudah berakhir... anak-anak ibu sekarang sudah tahu dan dapat menyampaikan opini dengan baik.. dan harus diterapkan dalam diskusi ya..”
·      Siswa: “iya bu...”

·      Guru: “baiklah, pelajaran sudah berakhir, anak-anak ibu boleh istirahat..”

Puisi

TEDUH. . .


kekosongan datang menghampiri dan merenggut semua
takut . . .
marah . . .
rasa itu meremukan tulang ini begitu saja
seperti tak seorang pun memandang kemari
sendiri dalam dunia kelam
tangislah yang menemani
dalam kesendirian ini
Kelam dingin tak terasa
lamunan jiwa mengambang entah pergi kemana
kacau seperti puing-puing tak berwujud
hati selalu menemukan kebuntuhan dan takut yang meraja

kesenjangan hati ini semakin menjadi-jadi
rasa ituTuhan datatang lagi...,
mengapa mereka begitu mudah mendapatkannya
kukatupkan kedua tangan
mencoba menemukaMu Tuhan
tak ada siapa-siapa
hanya kekosongan yang di awalnya
terus mencari, meleburkan kekelaman, menerobos kegelapan jiwa
kudengan seruan penyejuk jiwa ku’
 hanya gemerisik air yang terdengar kala itu
berselimutkan penyemangat jiwa
menenangkan hati ini
Engkau memeluk erat jiwa kelam ku Tuhan
ternyata itu benar
bahwa engkau tidak jauh dari ku
teduhlah kini aku Tuhan

dalam balutan kasih mu
Menjajaki Sejarah Bandar Senapelan Asal Mula Kota Pekanbaru
Oleh Ernimawati Halawa

Rasa ingin tahu yang tinggi, kepedulian dan kebersamaan adalah motivasi utama yang terlihat memancar dari wajah-wajah mahasiswa-mahasiswi Program studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia serta program studi pendidikan bahasa Inggris Universitas Riau, Sabtu, 04 Januari 2014.
Bertempat di Ruang H5 Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Drs. Elmustian Rahman, M.A., dan Abdul Jalil, M.Pd, selaku dosen mata kuliah memberikan pengarahan dan gambar perjalanan menjelajah bandar Senapelan yang akan dilakukan keesokan harinya. Dalam penjelasan tersebut dijelaskan delapan cluster yang akan dikunjungi. Selain itu, Drs. Elmustian Rahman, M.A. juga menjelaskan beberapa adat-istiadat, kebiasaan, dan budaya masyarakat Pekanbaru pada jaman dahulu hingga sekarang ini. Mahasiswa terlihat antusias dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui hal-hal mengenai penjelasan tersebut. Hari itu ditutup dengan melakukan permainan rakyat daerah yang bertujuan untuk mengingat kembali dan menerapkan permainan rakyat agar tidak memudar dari zamannya serta tetap dapat diingat oleh generasi muda sekarang ini.
Kampung Bandar Senapelan merupakan cikal bakal kota Pekanbaru. Menurut situs resmi kota Pekanbaru, dahulu Pekanbaru dikenal dengan sebutan Senapelan, dipimpin seorang kepala suku disebut batin. Mulanya Senapelan berupa ladang yang lambat laun berubah jadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan pindah ke daerah baru yaitu dusun Payung Sekaki yang terletak di muara Sungai Siak. Namun nama Payung Sekaki tidak dikenal pada masanya dan tetap disebut sebagai Senapelan.
Sultan Siak Sri Indrapura bernama Abdul Jalil Alamudin Syah kemudian mendirikan istana di Kampung Bukit berdekatan dengan perkampungan Senapelan. Sultan pun berinisiatif mendirikan sebuah pekan di Senapelan namun tak berkembang. Usaha Sultan dilanjutkan putranya bernama Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yakni di sekitar pelabuhan sekarang.
Selanjutnya pada 23 Juni 1784 berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar, dan Kampar) nama Senapelan diganti menjadi Pekan Baharu atau Pekanbaru dalam penyebutan sehari-hari. Berdasarkan SK Kerajaan, yaitu Besluit van Her Inlanche Zelf Destuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian dari Kesultanan Siak dengan sebutan distrik.
Pada tahun 1931 Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai seorang controleur. Setelah pendudukan Jepang tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai seorang gubernur militer yang disebut gokung. Setelah Indonesia merdeka, berdasarkan ketetapan gubernur Sumatera di Medan tanggal 17 Mei 1946 No. 103, Pekanbaru dijadikan sebagai daerah otonom yang disebut haminte atau kota besar.
Setelah itu berdasarkan UU No.22 tahun 1948, kabupaten Pekanbaru diganti menjadi Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru diberikan status kota kecil. Status ini semakin disempurnakan dengan keluarnya UU No.8 tahun 1956. Kemudian status kota Pekanbaru dinaikkan dari kota kecil menjadi kota praja setelah keluar UU No.1 tahun 1957. Berdasarkan Kepmendagri No. Desember 52/I/44-25 tanggal 20 Januari 1959, Pekanbaru resmi menjadi ibukota Propinsi Riau.
Cluster pertama yang dikunjungi adalah Kim-Teng. Kimteng dikenal sebagai kedai tempat ngopi di Pekanbaru. Kimteng sesungguhnya merupakan nama orang. Siapa Kim Teng? TANG Kim Teng lahir di sebuah rumah sederhana di pinggir kota Singapura pada Maret 1921. Nama kecilnya A Ngau. Ayahnya bernama Tang Lung Chiu dan ibunya Tan Mei Liang. Ia anak ketiga dari 5 bersaudara. Leluhurnya berasal dari kampung Kwanchiu, Tiongkok. Kim Teng pernah tinggal di Siak, Sungai Pakning, Bengkalis, dan Pekanbaru. Ia berasal dari keluarga amat sederhana. Mereka pindah-pindah untuk mencari kehidupan lebih baik.
Tahun 1935 Kim Teng pindah ke Pekanbaru. Usianya 14 tahun ketika itu. Di Pekanbaru, ia tinggal bersama kakak keduanya, Tang Tjun Lan dan abang iparnya (suami kakak kedua), Bok Tong An yang sudah lebih dulu tinggal di Pekanbaru. Di Pekanbaru, Kim Teng disekolahkan oleh abang iparnya. Ia bersekolah di Pek Eng, sebuah sekolah Tionghoa milik Chung Hwa Chung Hui. Tahun 1943, saat berusia 22 tahun, Kim Teng menikah dengan seorang gadis asal Dabo Singkep, Pulau Bangka bernama Tjang Fei Poan.
Usaha kedai kopi makin berkembang. Tahun 2002, Kedai Kopi Segar, yang lebih dikenal dengan nama ‘Kedai Kopi Kimteng’ dipindahkan ke Jalan Senapelan. Kini, Kedai Kopi Kimteng sudah punya enam cabang di Pekanbaru: Jalan Senapelan (pusat), Mall Ciputra Lantai 2, Mall SKA, Perpustakaan Soeman HS Lantai Dasar, RS Awal Bros Pekanbaru dan Suzuya Departemen Store Senapelan Pekanbaru Lantai 2. Di kedai kopi Kimteng jalan Senapelan inilah tepat pukul 7 pagi mahasiswa-mahasiswi Jurusan Bahasa dan senin ini berkumpul dan sarapan terlebih dahulu. Kimteng sebagai sponsor kegiatan penjelajahan bandar senapelan ini juga menyediakan minuman kopi gratis bagi seluruh mahasiswa.
Selanjutnya, setelah dari Kimteng, perjalanan dimulai dengan membagi kelompok menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama di bimbing oleh Bapak Anas Aismanah. Kelompok dua dipimpin oleh Drs. Elmustian Rahman, M.A., dan kelompok ketiga dipimpin oleh Abdul Jalil, M.Pd.
Dari Kimteng, melintasi sebuah rumah berpagar dan mewah, terlihat rumah kediaman tuan Jafar, seorang tuan tanah kota Pekanbaru, menurut Elmustian, tuan Jafar ini adalah seorang yang kaya raya di kota Pekanbaru. Setelah kediaman tuan Jafar tujuan selanjutnya adalah Surau Al-Irhaash.
Surau Al-Irhaash tempat bersejarah pertama yang kami kunjungi. Ia berada di Jalan Senapelan. Sebelum memasuki surau bercat hijau ini, ada dua gapura kecil dengan kubah bulat diatasnya. Sebuah catatan sejarah tertempel di bagian luar surau. Ada cerita singkat soal sejarah surau serta foto surau sebelum renovasi. Surau Al-Irhaash didirikan sekitar tahun 1925, dibangun di atas lahan yang diwakafkan oleh masyarakat Kampung Bukit. Pada zaman perang kemerdekaan surau difungsikan sebagai markas besar pejuang tentara Fisabilillah. Awalnya bangunan surau berbentuk segi empat. Setelah berfungsi sebagai tempat ibadah, ditambah ruang mihrab, tepatnya tahun 1970-an.
Dahulu surau dimanfaatkan sebagai tempat menyiarkan Islam (ceramah) dan mengaji bagi anak-anak.  Untuk mengikuti syiar Islam masyarakat Kampung Bukit membuat alat pertanda masuknya waktu sholat. Alat tersebut bernama ketuntung terbuat dari kayu. Pada tahun 1970-an alat tersebut dirubah bentuk menggunakan bahan dari drum yang bagian luarnya dilapisi kulit rusa, dinamakan tabuh.
Renovasi pertama dilakukan tahun 2005 menggunakan bantuan dana dari Gubernur Riau untuk membangun kamar mandi/WC, tempat wudhu dan penambahan jendela. Tahun 2007 dilakukan renovasi total menggunakan dana donatur yaitu keluarga besar H. Awaloeddin. Bangunan baru masih mempertahankan keaslian bentuk atap dan ukiran.
Setelah bangunan bersejarah Surau AL-Irhaash, tempat bersejarah yang dilewati adalah Rumah Honolulu. Rumah ini sudah tidak terlihat lagi wujud asli dari bangunannya dikarenakan sudah rata dengan tanah dan hancur dimakan sang waktu. Terlihat tidak adanya perbaikan ataupun perawatan yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah setempat akan tempat ini. Sisa-sisa batu yang terlihat dari jalan dan rumput ilalang yang tinggi semakin menutupi tempat itu.
Berangkat dari Rumah Honolulu, tempat yang dilewati adalah Jembatan Siak tiga. Selanjutnya tidak jauh dari jembatan itu terdapat tempat bersejarah lainnya adalah terminal lama kota Pekanbaru di tepian Sungai Siak. Letaknya tepat di bawah Jembatan Siak III. Situs terminal yang tersisa hanya dinding beratap dari batu. Jembatan Siak III sendiri diresmikan pada 3 Desember 2011 dengan nama Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah oleh Gubernur Riau. Jembatan ini jadi penghubung wilayah Pekanbaru kota dengan Kecamatan Rumbai yang dibelah Sungai Siak. Jembatan Siak III berwarna kuning dengan panjang total 520 meter dan panjang bentang 170 meter. Terminal lama kota Pekanbaru tak terawat. Lumut menempel di tiap bagian hingga menghitam. Jika hujan, rumput di sekitar kawasan terminal akan terendam air. Coretan-coretan menghiasi dinding batu.
Sekitar limapuluh meter dari terminal lama, ada bangunan tua dari kayu. Dindingnya dari papan bercat kuning beratap limas. Bangunannya berbentuk panggung dengan ukiran khas melayu. Dua puluh dua tiang sebagai penyangga rumah, tiga pintu dan 14 jendela terdapat dirumah itu. Rumah ini dibangun pada 23 Juli 1928, seperti tertera di tangga batunya. Ini rumah singgah Tuan Qadhi H Zakaria. Ia seorang pimpinan yang mengelola tiga aspek pemerintahan pada masanya: pimpinan adat, pim-pinan agama dan pimpinan sosial. Rumah ini terletak di pinggir Jalan Perdagangan, di tepi Sungai Siak.
Rumah singgah tersebut tampak kurang baik pengelolaannya. Beberapa jendela ditutup dengan palang papan dari luar. Pintu masuk juga digembok seadanya. Dari keadaan sekitar terlihat kurangnya perhatian terhadap situs sejarah yang mungkin akan menghilang dimakan sang waktu jika masyarakat tetap mengabaikannya.
Merasa cukup puas akan keingintahuan akan rumah singgah, mahasiswa seluruhnya bersama pembimbing menuju ke rumah Tenun. Berbentuk rumah panggung dari kayu berwarna cokelat berarsitektur melayu. Rumah disertai tujuh anak tangga yang terbuat dari batu ini memiliki sebuah catatan kecil ditulis tangan Drs. H.A. Tanwir Ayang, M.Si tokoh budayawan Pekanbaru tertempel di dekat pintu rumah. Catatan tersebut menjelaskan riwayat rumah H. Yahya.
Rumah didirikan tahun 1887. Pada awalnya digunakan untuk basis pejuang Fisabilillah sekaligus Gudang Logistik dan Dapur Umum. Tahun 1958 pasca kemerdekaan rumah tersebut dijadikan tempat tinggal Tentara Nasional Indonesia Pusat di era penumpasan pemberontakan PRRI Sumatera Bagian Tengah khususnya Riau.
Saat ini rumah H. Yahya digunakan untuk kegiatan kelompok Swadaya Masyarakat Tenun Kain Songket di Kampung Bandar Senapelan. Ada jendela kayu dengan dua daun jendela di setiap ruangan rumah H Yahya. Jendela bisa dibuka dengan cara mendorong ke arah luar. Begitu dibuka, udara tepian Sungai Siak berhembus masuk ruangan. Lantai bagian bawah digunakan sebagai gudang penyimpanan barang.
Rumah H Yahya sudah ada sejak tahun 1887 .“Dalam adat melayu, bentuk rumah menentukan strata sosial si empunya rumah,” kata Elmustian. Dalam catatan Tanwir Ayang tertulis H. Yahya seorang tauke getah karet. “Terbukti ini rumah orang kaya. Lihat saja rumahnya tinggi dan tangganya dari batu, banyak pula anak tangganya,” lanjut Elmustian.
Cukup puas memotret sana dan sini, kembali penelusuran dilanjutkan menuju Tugu Nol Pekanbaru. Elmustian mengatakan bahwa sejarah tak seharusnya diubah. “Contohnya ini, di sini sebenarnya titik nol kota Pekanbaru,” papar Elmustian. Saat itu jelajah rombongan sudah tiba di tugu titik nol kota Pekanbaru. Ia berada di Gudang Pelabuhan Indonesia I (Pelindo I) Kelurahan Kampung Dalam Kecamatan Senapelan. Tugu titik nol berupa batu persegi sertinggi 70 senti meter. Ia kelihatan kokoh namun sudah menghitam, bahkan terkesan tidak terlihat lagi dikarenakan sudah tertutupi lumut dan menghitam.
Pada batu tertulis “Pad 313, Bkn 65, Pb 0”. Tulisan tersebut menyatakan jarak dari Pekanbaru ke Padang 313 kilo meter dan dari Pekanbaru ke Bangkinang 65 kilo meter. Di bawahnya terdapat lambang dinas Pekerjaan Umum. Namun sejak tahun 1986, batu ini tak lagi dianggap sebagai kilo meter nol Pekanbaru. Kini ia tampak tak terawat lagi.
Tidak jauh dari tugu titik nol Pekanbaru, tepatnya beberapa meter dari sebelah tugu tersebut, kami melihat sebuah rumah tingkat dua berdinding papan dan triplek. Dilihat dari luar, lantai dua rumah dipenuhi kain jemuran. “Itu dulu kedai pertama Kimteng,” kata Elmustian. Kimteng dikenal sebagai kedai tempat ngopi di Pekanbaru.
Terminal tempat muat bongkar barang kapal tersebut cukup luas terlihat dikarenakan tempat itu sudah tidak berfungsi lagi selayaknya sebuah terminal pada umumnya. Tempat ini hanya digunakan oleh masyarakat setempat untuk lalu lintas saja atau bahkan untuk sekedar menikmati pemandangan yang ada.
Berangkat dari situ, penjelajahan dilanjutkan melewati Pasar Bawah, sebuah pasar di pekanbaru yang bertingkat dan ramai dikunjungi. Melewati itu pula melalui Kampung Tengah, kami menuju jembatan siak IV, sebelumnya kami melintasi sungai Sago yang disebut-sebut oleh pak Anas selaku budayawan setempat yang lebih mengenal asal-usul kota pekanbaru dan sejarahnya, ia mengatakan bahwa dahulunya kerajaan Siak berada diantara Sungai Sago dan sungai Limau sebelum akhirnya dipindahkan ke kota Siak. Sungai Limau terletak dibawah jembatan siak IV yang masih dalam tahap penyelesaian. Diseberangnya terdapat kampung Tanjung Ruh.
Penjelajahan dengan menelusuri setiap jalan dengan berjalan kaki ini tidak hanya sampai disitu. Dengan semangat yang membara, para mahasiswa kompak dan berlarian ingin mendahului untuk menelusuri jalan dan mendapatkan informasi lebih dari pembimbing masing-masing tanpa melupakan sesi berfoto sebagai bahan dokumentasi.
Melewati pasar Tengah, kami menuju Mesjid Alam Nur Alam yang masih dalam tahap penyelesaian pembangunannya, namun sudah dipakai untuk beribadah kaum muslimin setempat. Tepat disebelah mesjid tersebut, terdapat Makam Sultan Abdul Jalil Alamsyah dan anaknya serta panglima dan yang lainnya.  Makam Sultan yang lebih dikenal dengan sebutan sultan Bukit ini telah mengalami beberapa renovasi dan pertentangan didalamnya, antara budayawan yang ingin mempertahankan keasliannya salah satunya adalah pak Anas dan pemerintah.
Tempat bersejarah yang terakhir dikunjungi adalah Kediaman tetap Tuan Qadhi H Zakaria. Rumah ini berada di Jalan Senapelan Gang Pinggir, tepat di belakang kompleks Masjid Raya Pekanbaru. Bangunannya bergaya Eropa klasik dicat putih. Amat kontras dengan rumah singgahnya yang berarsitektur khas Melayu.
Sebagian pekarangan ditanami aneka bunga dan rumput hias. Sebagian lagi berupa tanah dengan bebatuan kecil. Bagian belakang rumah terdapat kamar dua lantai. Di teras sampingnya ada dua kursi jati melengkung serta meja bulat. Sedangkan di pintu depan, bagian kiri dan kanannya tergantung lampu hias. Rumah ini dijadikan tempat persinggahan Sultan Siak yang datang.
Setelah seharian menjelajahi asal-usul dan situs bersejarah pekanbaru, para mahasiswa pun beristirahat sebentar dan menutup perjalan tersebut dengan kegiatan berfoto dan pembagian tugas. Dengan rasa gembirapara mahasiswa dan dosen-dosen pembimbing akhirnya pulang dengan pengetahuan yang didapat serta melihat keberadaan situs bersejarah yang hampir punah dimakan waktu ini, harapan bersama supaya kita dan masyarakat serta pemerintah memiliki rasa cinta terhadap pertahanan tempat-tempat bersejarah tersebut sehingga anak cucu tetap dapat melihat dan merasakannya.



Dokumentasi:
1.        Kedai Kopi Kim Teng
IMG_7106.JPGIMG_7107.JPG

2.        Kediaman Tuan Jafar
Foto0244.jpg
3.        Surau Al-Irhaas
Foto0246.jpg
IMG_7121.JPG
4.         Rumah Singgah
Foto0263.jpg
Foto0260.jpg
5.        Rumah Tenun
Foto0273.jpg
Foto0288.jpg
6.        Tugu Nol Pekanbaru
IMG_7217.JPG
7.        Terminal
Foto0326.jpg
8.        Mesjid Alam Nur Alam
Foto0361.jpg
9.        Makam Sultan Abdul Jalil Alamsyah
Foto0362.jpg

10.    Kediaman tetap Tuan Qadhi H Zakaria

Verba gerak dalam bahasa melayu

1.      Ayah menendang bola ke dalam gawang
Ø Bapak menyepak bola ke gawang
Makna:   Menyepak adalah memukul dengan kaki; menendang; mendepak. Di dalam kalimat di atas, ayah melakukan kegiatan memukul (menggerakkan kaki) bola dengan kakinya ke dalam gawang.

2.      Dedi melempar batu ke dalam sumur
Ø Dedi melempo batu  ke pigi
Makna: Melempar adalah kegiatan membuang jauh-jauh; melontari. Di dalam kalimat diatas, gerakan tangan Dedi melempar atau membuang jauh-jauh batu tersebut kedalam sumur.

3.      Adik Menutup Pintu Secara Perlahan-Lahan
Ø Adek menutup pintu dengan pelan-pelan
Makna:   Menutup adalah kegiatan menjadikan tidak terbuka (seperti mengatupkan, mengunci, merapatkan). Di dalam kalimat diatas, adik melakukan kegiatan menjadikan pintu tidak terbuka dengan menggunakan gerak tangan secara perlahan-lahan.

4.      Putri Berjalan Secara Tergesa-Gesa Ke Dalam Kamar
Ø Putri bejalan dengan terdesak-desak ke bilik
Makna:   Berjalan adalah kegiatan melangkahkan kaki bergerak maju. Makna dalam kalimat diatas adalah menunjukkan Putri bergerak maju melangkahkan kakinya tetapi dilakukan secara tergesa-gesa ke dalam kamarnya.

5.      Ibu Mengedipkan matanya kepada Tia pertanda menyetujui permintaan Tia
Ø Mak mengedep matonyo samo Tia menando sepakati permintaan Tia
Makna:   Kedip adalah menggerakkan kelopak mata (membuka dan menutup berganti-ganti); mengejapkan. Kegiatan dalam kalimat di atas dilakukan oleh ibu dengan menggerakan matanya dan pertanda bagi Tia bahwa ibu menyetujui permintaannya.

6.      Cici Menganggukan kepala ketika Santi menanyakan apakah Cici sudah makan 
Ø Cici menganggukkan kepalo waktu Santi menanyo apo Cici siap makan
Makna:   Angguk adalah kegiatan menggerakkan kepala ke bawah (memberi hormat, mengiakan). Dalam kalimat di atas Cici mengiakan pertanyaan Santi dengan anggukan kepala dan Santi pun menjadi paham.

7.      Tati menjentikkan jarinya ke telinga Dedi karena kesal dengan tingkah Dedi
Ø Tati jentek jayinyo ke telingo Dedi karna tak senang hati dengan ulah Dedi
Makna: Jentik adalah kegiatan menjepit dengan ibu jari dan jari yg lain; mencubit;memukul dengan belakang ujung jari yang dibidaskan dengan jempol; menyentil; menegur; memarahi. Di dalam kalimat di atas, karena kesal Tati pun menegur Dedi dengan cara menjentikkan jarinya ke telinga Dedi.

8.      Abang Menyundul Bola Dengan Kuat
Ø Abang menandok bola dengan kuat
Makna:   Sundul adalah kegiatan menundukkan kepala untuk menumbuk benda yg ada di atasnya; menangkis bola dengan kepala. Dalam kalimat di atas menyundul bola menggunakan gerakan kepala, gerakan tersebut agar menangkis bola supaya tidak masuk kedalam gawang ataupun agar jauh dari tempat itu.

9.      Santi Menggertakan giginya karena marah kepada Budi
Ø Santi ngertak giginyo karna naik darah samo Budi
Makna:   Gertak adalah suara keras (entakan kaki, suara gigi, ancaman, dan sebagainya) untuk menakut-nakuti. Gertakan Santi dengan menggunakan gigi di atas di gunakan untuk menakuti Budi supaya Budi menyadari bahwa Santi marah kepadanya.

10.  Budi Menyiram Bunga Menggunakan Gayung
Ø Budi menyiam bungo dengan gayong

Makna: Siram adalah kegiatan mencurahkan air dan sebagainya pada bunga; mengguyur; mendirus. Di dalam kalimat di atas Budi melakukan gerakan menggunakan tangan untuk menyiram bunga menggunakan Gayung.

Pengertian dan pengembangan paragraf

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu bergelut dengan yang namanya kegiatan membaca bacaan atau teks.Dalam sebuah teks bacaan selalu kita temukan rangkaian kalimat-kalimat yang membentuk paragraf.Sebagaimana kita mengetahui bahwa, paragraf itu berlaku pada bahasa tulis.
Paragraf merupakan kumpulan kalimat, tetapi kalimat yang bukan sekedar berkumpul, melainkan berhubungan antara yang satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang membentuk suatu kalimat.
Pada umumnya para pelajar ataupun mahasiswa kurang memahami bagaimana cara penulisan paragraf yang baik dan benar serta dalam pengembangannnyapun juga demikian. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk menulis makalah ini, selain juga untuk memenuhi salah satu tugas sesuai dengan mata kuliah yang sedang dipelajari dan ditugaskan oleh dosen pembimbing.

1.2  Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang permasalahan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut ;
1)      Apakah pengertian paragraf ?
2)      Bagaimanakah pola pengembangan paragraf ?
3)      Bagaimana implementasi paragraf pada beberapa jenis tulisan ?

1.3  Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk ;
1)      Mengetahui pengertian paragraf.
2)      Mengetahui bagaimana pola pengembangan paragraf .
3)      Mengetahui implementasi paragraf pada beberapa jenis tulisan.

1.4  Manfaat dan Kegunaan Pembahasan
Dalam pembahasan makalah ini ada beberapa manfaat dan kegunaan yang dapat diambil, yakni kita dapat mengetahui pengertian paragraf dan metode-metode yang digunakan dalam pengembangan paragraf  sehingga kita dapat mengaplikasikannya dalam pembuatan artikel, makalah, dan karangan, serta yang lainnya.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Paragraf
Paragraf merupakan gabungan dari beberapa kalimat yang saling berkaitan antara satu kalimat dengan kalimat yang lainnya dalam membahas sebuah topik.
Menurut Gorys Keraf paragraf sama dengan alinea, yakni kesatuan pikiran dari beberapa kalimat yang bertalian untuk membentuk sebuah gagasan (1980 : 25).
Berdasarkan pernyataan tersebut, paragraf adalah bagian-bagian teks atau bacaan yang terdiri atas kalimat-kalimat yang saling berhubungan satu sama lain yang membentuk sebuah gagasan.Dengan kata lain kalimat-kalimat tersebut merupakan unsur pembentuk paragraf.
Menurut Soedjito, paragraf adalah bagian dari karangan yang terdiri atas beberapa kalimat yang berhubungan secara utuh dan terpadu serta kesatuan pikiran (Masur, N1990 : 127).
Pendapat Soedjito ini hampir sama dengan pendapat pakar sebelumnya, Gorys Keraf. Paragraf merupakan perpaduan atau gabungan dari beberapa kalimat yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dalam sebuah topik.
Sementara itu, Richard M. Weaver menjelaskan dalam bukunya Composition kedudukan paragraf dalam komposisi sebagai berikut :
The paragraph is a kind of division and paragraphing is away of separating out the parts of a composition standing between the sentence as a unit at one and of the scale and section or chap at the other, the paragraph has the useful role of organizing our thoughts into groups of intermediate size.
Paragraf itu semacam pembagian dan pembuatan paragraf itu merupakan satu cara untuk membeda-bedakan bagian-bagian dari satu karangan. Paragraf itu merupakan bagian yang berada diantara kalimat sebagai suatu kesatuan yang kecil dengan bab sebagai bagian yang lebih besar. Paragraf itu memegang peranan penting untuk mengorganisasikan pikiran-pikiran kita kedalam bagian-bagian atau kelompok.
Hal ini menunjukkan bahwa paragraf itu terdiri dari kalimat-kalimat yang membicarakan topik atau tema tertentu.Paragraf itu ialah hubungan antara kalimat yang satu dengan yang lain dalam suatu rangkaian, dan juga bisa disebut dengan penuangan ide penulis melalui kalimat atau kumpulan kalimat yang satu dengan yang lain yang berkaitan dan hanya memiliki suatu topik atau tema.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, paragraf adalah kumpulan kalimat yang memiliki sebuah ide pokok dan diikuti oleh kalimat-kalimat penjelas dari ide pokoknya serta memiliki unsur kelengkapan kalimat untuk mendukung penjelasan-penjelasan mengenai ide pokoknya.
Dalam suatu paragraf yang baik dituntut oleh adanya syarat-syarat berikut :

1).  Kepaduan paragraf ( koherensi )
Adalah adanya kemampuan untuk merangkai kalimat sehingga berkaitan satu sama lain sehingga logis dan serasi.
Contoh : Remaja mempunyai banyak potensi untuk dikembangkan. Remaja terkadang tidak menyadari bahwa ia memiliki banyak kelebihan yang bisa digali dan diberdayakan guna menyongsong masa depan. Mereka perlu bantuan untuk dimotivasi dan diberi wawasan. Anak-anak muda lewat potensinya adalah penggengam masa depan yang lebih baik dari para pendahulunya.

2). Kesatuan paragraf
Yang dimaksud kesatuan adalah tiap pargaraf hanya mengandung satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama.Paragraf dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik.
Contoh:PBB menetapkan 12 Agustus sebagai hari Remaja Internasional. Pencetus gagasan ini ialah para menteri sedunia yang menangani masalah remaja di portugal 1998. Tujuannya guna memicu kesadaran remaja untuk memahami masalah sosial budaya, lingkungan hidup, pendidikan dan kenakalan remaja.

3). Kelengkapan paragraf
Sebuah paragraf dikatakan lengkap apabila di dalamnya terdapat kalimat-kalimat penjelas secara lengkap untuk menunjukan pokok pikiran atau kalimat utama.Ciri-ciri kalimat penjelas yaitu berisi penjelasan berupa rincian, keterangan, contoh, dan lain-lain.

2.2 Pengembangan Paragraf
Sebelumnya sudah kita ketahui bahwa paragraf membahas mengenai sebuah topik atau tema.Setiap kalimat dalam rangka paragraf, bertumpu pada satu pokok pembicaraan.Paragraf merupakan bagian dari karangan atau bagian dari tuturan (pokok pembicaraan) yang terdiri dari satu kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas.
Kalimat utama adalah pernyataan yang menjadi inti cerita atau gagasan utama dalam sebuah paragaf.Sedangkan, kalimat penjelas merupakan pernyataan yang menjelaskan gagasan utama atau pernyataan-pernyataan yang mendukung, menjelaskan atau melengkapi kalimat utama dalam sebuah paragraf.Dalam sebuah paragraf hanya ada satu kalimat utama. Biasanya kalimat utama diletakkan diawal kalimat (deduktif), atau kalimat utama terletak diakhir paragraf ( induktif ), serta kalimat utama tercakup dalam keseluruhan paragraf (deduktif- induktif ).
Unsur kelengkapan paragraf mengacu pada adanya pikiran utama yang berwujud kalimat utama dan pikiran penjelas yang berwujud kalimat-kalimat penjelas.Kalimat-kalimat penjelas haruslah menunjang kejelasan kalimat utama.Paragraf dinyatakan sebagai paragraf tidak lengkap jika tidak dikembangkan secara baik. Oleh karena itu, unsur kelengkapan itu sering pula disebut pengembangan, bahkan ada yang menyebut perkembangan (lihat Akhadiah M.K. dkk, 1991/1992; Soeparno, Haryadi, dan Suhardi, 2001; Keraf, 1981)
Perlu kita ketahui bahwa pengembangan paragraf memegang peranan penting dalam proses menulis ( mengarang ). Karena mengarang adalah proses dari mengembangkan kalimat topik.

2.2.1 Metode  Pengembangan Paragraf
Pengembangan paragraf adalah suatu paragraf yang menghendaki adanya pengembangan atau perluasan yang berintikan kalimat utama.Metode pengembangan paragraf adalah cara-cara bagaimana kita mengembangkan suatu paragraf.
Dalam melaksanakan pengembangan paragraf biasanya diawali dengan mengubah topik cerita menjadi sebuah kalimat tunggal yang bersifat umum.dimana kalimat ini masih menghendaki penjelasan, kalimat inilah yang disebut dengan kalimat utama. Setelah kalimat utama tersebut dijadikan permulaan paragraf, maka langkah selanjutnya ialah menguraikan kalimat-kalimat yang sesuai dengan kalimat utama.Kalimat inilah yang disebut kalimat penjelas.

Pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu  ;

1)      Cara Definisi
Cara definisi adalah pengembangan paragraf melalui pengungkapan penjelasan atau pengertian dari suatu masalah yang dibicarakan, serta diungkapkan dari berbagai sudut pandang.
Kata-katayang digunakan dalam mengembangkan paragraf secara definisi, antara lain adalah, ialah, yaitu.
Contoh :
Paragraf ialah suatu bagian dari karangan yang di dalamnya terdiri atas beberapa kalimat yang selalu berkaitan satu sama lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh membentuk satu pikiran utama. Di dalam paragraf biasanya terdapat satu kalimat yang menjadi pokok pikiran dari paragraf tersebut yang biasa kita kenal dengan kalimat utama.

2)      Cara Analogi
Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan dengan objek lain yang memiliki suatu kesamaan atau kemiripan, biasanya dilakukan dengan bantuan kiasan.
Kata-kata kiasan yang digunakan yaitu ibaratnya, seperti dan bagaikan.

Contoh :
Bahasa bukan merupakan tujuan dalam penulisan karangan ilmiah.Bahasa hanya sebagai alat (komunikasi) agar gagasan ilmiah yang diungkapakan dalam karangan tersebut dapat dipahami oleh pembaca dengan baik. Oleh sebab itu,sebelum karangan itu sampai ketangan pembaca,penulis karang tersebut harus memeriksa bahasa yang digunakannya, baik dari segi ketetapan pemilihan kata dan istilah maupun dari segi gramatikal satuan-satuan struktur bahasa, misalnyastuktur satuan kata, frasa klausa, kalimat, dan alinea atau paragraph dan juga pemakaiaan ejaan dan tanda baca secara tepat. Jika terjadi gangguan atau kerusakan pada unsur-unsur bahasa tersebut,besar kemungkinan pembaca tidak dapat memahami gagasan ilmiah yang disampaikannya itu dengan baik. Hal ini dapat diibaratkan dengan kendaraan yang digunakan untuk mencapai tujuan perjalanan yang jauh. Sebelum berangkat,orang yang akan bepergian dengan kendaraan tersebut harus memeriksa kondisi kendaraannya, baik yang berkaitan dengan rem, versneling, roda, ban, bensin dan sebagainya.kalau perlu orang itu harus membawa kendaraannya ke bengkel untuk diperiksa agar yang bersangkutan selamat sampai ketempat tujuan.

3)      Cara Contoh-Contoh
Contoh-contoh disajikan sebagai gagasan penjelas untuk mendukung atau memperjelas gagasan umum agar mudah dipahami oleh pembaca.
Kata, seperti, misalnya, contohnya dan lain-lain merupakan ungkapan-ungkapan dalam pengembangan dalam mengembangkan paragraf dengan contoh.
Contoh :
Tak ada seorang pun yang tak ingin kaya, apalagi kaya dengan rejeki yang halal, tapi didunia ini berlaku hukum keseimbangan, kaya dengan halal harus kerja keras, kerja cerdas dan kerja waras. Kekayaan hasil korupsi tidak akan pernah membuahkan kebahagiaan. Contohnya : Bapak G memimpin sebuah lembaga negara, yang asalnya biasa sekarang jadi superkaya, rumahnya bak istana, setiap anak punya mobil dan apartemen, tetapi anehnya ketiga anak laki-lakinya tidak ada yang lulus kuliah, anak perempuannya hobi kawin cerai dan dua cucunya mengalami keterbelakangan mental.

4)      Cara Sebab Akibat
Cara sebab akibat sering disebut dengan kausalitas. Pengembangan paragraf cara ini dapat dilakukan dengan menyajikan sebab sebagai gagasan penjelas, atau sebaliknya disajikan akibat sebagai gagasan pokok utama diikuti dengan penyebab sebagai gagasan penjelas.
Kata yang digunakan yaitu, padahal, akibatnya, oleh karena itu dan karena.
Contoh :
Pertama kali pindah kekota ia adalah anak yang baik, tahun pertama ia masuk Kuliah, ia mulai merokok, malam minggu kumpul ditempat tongkrongan langganan, disuguhi minuman beralkohol, mulailah mabuk-mabukan. Kini rokoknya diganti dengan lintingan ganja, uang transport sering dipakai beli ganja, kuliah sering bolos, akibatnya hasil ujian jelek, badan kurus dan sekarang mulai berani menjual barang-barang rumah untuk membeli si daun haram itu.

5)      Cara Perbandingan
Cara perbandingan merupakan sebuah pengembangan paragraf yang dilakukan dengan membandingkan guna memperjelas suatu paparan.
Biasanya menggunakan ungkapan seperti, serupa dengan, seperti halnya, demikian juga, sama dengan, sejalan dengan, akan tetapi, sedangkan, dan sementara itu.
Contoh :
Tata cara kehidupan masyarakat primitif berbeda dengan modern. Masyarakat primitif dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari bahan-bahan yang tersedia dilingkungannya tanpa membelinya. Jika barang yang diperlukannya tidak ada dilingkungannya,maka mereka dapat memperolehnya dari masyarakat tetangganya dengan sistem barter (saling menukar barang). Alat-alat yang diperluka untuk memenuhi kebutuhannya juga diperoleh dari lingkungannya, yaitu berupa batu, tanah liat, atau pun dahan pohon yang diolah secara manual.Sedangkan masyarakat modern memperoleh kebutuhannya dengan cara membeli barang atau membayar jasa. Alat-alat yang diperlukan merupakan olahan dari pabrik yang juga harus dibeli untuk memeperolehnya.

6)      Cara Pertentangan
Yaitu cara pengembangan paragraf yang biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan seperti berbeda dengan, bertentangan dengan, sedangkan, lain halnya dengan, akan tetapi, dan bertolak belakang dari.
Contoh :
Sekolah tinggi (umum) berbeda dengan sekolah swasta.Perbedaan itu dapat dilihat dari segi biaya sekolah, fasilitas, standar sekolah serta kualitas pengejarannya.Untuk sekolah umum biayanya mampu dicapai bagi semua kalangan masyarakat.Akan tetapi, fasilitas yang ditawarkan kurang memadai bagi kelangsungan sistem belajar mengajar.Sedangkan, sekolah swasta biaya yang ditawarkan hanya mampu mencapai batas keuangan beberapa kalangan masyarakat, artinya kalangan orang mampu.Hal ini sejalan dengan fasilitas, standar sekolah sertakualitas pengajarnya.Sehingga sekolah swasta mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan.

7)      Cara Klasifikasi
Cara klasifikasi adalah pengembangan paragraf melalui pengelompokan berdasarkan ciri-ciri tertentu.
Kata-kata ungkapan yang lazim digunakan yaitu dibagi menjadi, digolongkan menjadi, terbagi menjadi, dan mengklasifikasikan.
Contoh :
Penyelidikan tentang tempramen dan watak manuia telah dilakukan sejak dahulu kala. Hippo Crate dan Galenus mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi menjadi empat golongan menurut keadaan zat-zat cair yang ada dalam tubuhnya. Empat golong tersebut yaitu sanguinis ( banyak darah ) yang sifatnya periang, gembira, optimis, dan lekas berubah-ubah. Kemudian kolerik ( banyk empedu kuning ) adalah manusia yang memiliki sifat garang, hebat, lekas mrah, dan agresif. Selanjutnya, flegmatis ( banyak lendirnya ) adalah manusia yang sifatnya tenang, tidak mudah berubah, dan lamban. Terakhir, melankolis ( banyak empedu hitam ) memiliki sifat muram, tidak gembira, dan pesimis.

2.3 Implementasi Paragraf Pada Jenis Tulisan
Berikut diuraikan mengenai penerapan paragraf pada jenis tulisan atau karangan deskrisi, argumentasi, eksposisi, narasi, dan persuasi.
1)      Deskripsi
Deskripsi adalah karangan yang sifatnya melukiskan, menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci.Tujuannya ialah memberikan pelukisan atau gambaran terhadapsesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan hal yang dideskripsikan.
Contoh :
Malam itu, indah sekali.Dilangit, bintang-bintang berkelip-kelip memancarkan cahaya.Hawa dingin menusuk kulit.Sesekali terdengar suara jangkrik.Binatang malam dan kalilawar mengusik sepinya malam.Angin berembus pelan dan tenang.
2)      Argumentasi
Argumentasi adalah karanan yang mengutarakan gagasan, pendapat, dan ide dengan menyertakan alasan-alasan dengan tujuan untuk meyakinkan orang lain ( pembaca ) terhadap gagasan, pendapat, dan ide yang diungkapkan penulis.
Contoh :
Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan ramai berkunjung, tetapi juga sering menelan korban.Yang disayangkan, sebagian masyarakat Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis, yakni dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal.Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan. Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis, juga menambahkan bahwa disepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat palung (pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit diprediksi. Kondisi inilah yang sering banyak menimbulkan korban mati tenggelam.
3)      Eksposisi
Eksposisi adalah karangan yang bertujuan menjelaskan, menerangkan, dan memberitahukan suatu peristiwa atau objek dengan tujuan agar orang lain mengetahuinya (menambah wawasan).
Contoh :
Tim peneliti yang dipimpin Graham Hutchings, seorang kimiawan dari Cardiff University Inggris telah menemukan cara agar reaksi kimia menjadi ramah lingkungan. Mereka menggunkan partikel emas yang masing-masing berukuran 25 nanometer ntuk mengaktifkan oksign dari udara. Oksigen sangat diperlukan dalam proses oksidai. Oksidasi adalah proses penmbahan atom-atom oksigen dalam senyawa karbon untuk menghasilkan produk organic yang bermanfaat. Pada prinsipnya, proses ini akan ramah lingkunan jika menggunakan oksigen murni (O2) dari udara. Dalam reaksi oksidasi, ikatan kimia diantara kedua atom oksigen harus dilepaskan sehingga masing-masing atomnya bebas digunakan dalam reaksi.Hal inilah yang sulit dilakukan.Hampir seluruh reaksi oksidasi yang dilakukan dalam industry menggunakan oksidasi yang berbahaya seperti asam parasetik yang menghasilkan limbah beracun.Oksigen yang telah diaktifkan mudah ditambahkan pada molekul karbon.Dalam berbagai reaksi kimia, cairan digunakan untuk membantu melarutkan reaktan (zat yang direaksikan) dan mendorong atom untuk mengaktifkan oksigen tanpa harus menggunakan bahan-bahan pelarut seperti itu.
4)      Narasi
Narasi adalah karangan yang mengisahkan suatu peristiwa yang disusun secara kronologis ( sistematika waktu ). Wacana narasi disebut juga karangan kisahan karena isinya menceritakan suatu peristiwa atau kisah seseorang.

Contoh :
Tepat ketika tanggal 25 Oktober, sekolahku libur selama tiga hari dan akan berakhir pada tanggal 27 Oktober. Aku dan seluruh keluargaku tidak menyia-nyiakan waktu ini untuk mengadakan liburan keluarga.Ketika itu aku memilih berlibur ke Pantai Kute.Pagi-pagi aku telah berbenah dan menyiapkan semua perbekalan yang nantinya diperlukan.Sepanjang perjalanan, aku iringi dengan nyanyian lagu riang.Betapa senangnya aku ketika sampai di pantai tersebut. Dengan hati suka ria, aku sambut PantaiK Kute dengan senyumku. Pantai Kute, pantai nan elok yang menjadi favoritku. Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku mengajak kakakku untuk bermain air.Kuambil air dan aku ayunkan ke mukanya.Dengan canda tawa, kami saling berbalasan.Puas rasanya, terasa hilang semua kepenatan karena kesibukan tiap harinya. Di sana, aku dan seluruh keluargaku saling berfoto-foto untuk mengabadikan momen yang indah ini. Tak terasa waktu berjam-jam telah kuhabiskan disana.Hari pun mulai sore menandakan perpisahan dan kembali pulang.Tak rela rasanya kebahagiaan ini akhirnya selesai. Dalam benakku, aku kan kembali esok.
5)      Persuasi
Persuasi adalah karangan yang sifatnya memengaruhi, mengajak, dan menganjurkan sesuatu pada orang lain ( pembaca ) untuk berbuat atau bertindak sesuai dengan harapan penulis. Dalam wacana persuasi, terdapat kata ajakan seperti ayoatau mari.
Contoh :
Setiap orang normal akan senang pada kebersihan, baik kebersihan lingkungan maupun kebersihan dirinya sendiri. Bahkan bagi umat islam upaya menciptakan kebersihan itu merupakan sebagian dari iman, sehingga orang yang menciptaan kebersihan berarti memperkokoh imanya untuk itulah sebaiknya setiap saat kita harus menjaga dan menciptakan kebersihan agar iman kita semakin tebal.
Setiap saat diri kita harus bersih, baik bersih lahir maupun batin. Demikian pula lingkungan kita.Tempat tinggal kita harus bersih, karena selain enak dipandang mata juga dapat menjaukan diri kita dari bibit penyakit. Oleh karena itu, marilah sama-sama kita ciptakan  budaya hidup bersih pada diri kita sendiri dan lingkungan kita.

  
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Paragraf atau alinea merupakan gabungan dari beberapa kalimat yang saling berkaitan dan membentuk sebuah gagasan.Gagasan itu lebih jelas kalau dilengkapi dengan uraian-uraian tambahan. Setiap kalimat dalam paragraf akan selalu berkaitan satu dengan lainnya untuk membentuk suatu bagian paragraf.
Pembentukkan paragraf yang baik harus memenuhi persyaratan kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan.Untuk itu, diperlukan pengembangan paragraf yang baik.Kerangka struktur paragraf dikembangkan berdasarkan peletakan kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas.
Dalam mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan beberapa metode atau cara pengembangan, antara lain :
1)      Cara deskripsi
2)      Cara analogi
3)      Cara contoh-contoh
4)      Cara sebab-akibat
5)      Cara perbandingan
6)      Cara pertentangan
7)      Cara klasifikasi
 3.2 Saran
Berdasarkan uraian yang telah ada, penulis menyarankan kepada pembaca agar dalam melakukan proses pengembangan paragraf sebaiknya memperhatikan metode atau cara-cara dalam pengembangannya. Sehingga hasil dari karangan atau tulisan kita merujuk pada bentuk karangan yang baik yang mampu memenuhi syarat-syarat dari sebuah paragraf yang baik, yakni kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan.



DAFTAR PUSTAKA

Hakim, Nursal.2010. Kemampuan Berbahasa Indonesia Dasar.Pekanbaru : Cendekia Insani Pekanbaru

Hakim, Nursal. 2007. Keterampilan Dasar Menulis.Pekanbaru : Cendekia Insani Pekanbaru

Tukan, Paulus. 2007. Mahir Berbahasa Indonesia SMA Kelas X. Jakarta : Yudistira

Djuharie, O.Setiawan, Suherli. 2001. Panduan Membuat Karya Tulis : resensi, laporan, buku, skripsi, tesis, artikel, makalah, berita, essei,dll.Bandung : Yrama Widya